Tampilkan postingan dengan label pemuda islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2010

Menguak Tabir Valentine’s Day


Oleh Asri Supatmiati

Hari Valentine (St. Valentine’s Day) sangat populer di negara-negara Eropa dan Amerika. Pada hari itu, kaum remaja merayakannya dengan hura-hura. Mereka datang ke pesta-pesta, berdansa semalam suntuk, saling memberi hadiah coklat, dan pergi bersama pasangannya ke tempat-tempat yang dianggap romantis. Bahkan hal-hal yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri juga mereka lakukan. Naudzubillah min dzalik.

Bagaimana di Indonesia? Aroma Hari Valentine kini juga sangat menyengat di tanah air. Tak beda jauh dengan remaja-remaja luar negeri sana, mereka yang notabene muslim-muslimah ikut-ikutan merayakan hari kasih sayang. Mereka menjiplak habis-habisan perilaku permisif dan serba halal yang dilakukan orang Barat. Pasangan muda-mudi saling memberikan kartu berisi ungkapan-ungkapan cinta, puitis dan romantis.
Sarat dengan ucapan yang membangkitkan syahwat.

Fenomena Valentine’s Day pun menjadi ajang bisnis menggiurkan. Para pelaku bisnis -ironisnya sebagian besar juga muslim- ikut andil dalam menyemarakkan hari kasih sayang. Diluncurkanlah produk-produk terbaru yang bernuansa ‘cinta’. Seperti parcel valentine, pernak-pernik serba pink, berbentuk daun waru, dan kartu valentine dengan berbagai desain lengkap dengan kata-kata puitis penuh ungkapan cinta.

Pusat perbelanjaan, hotel, restoran, kafe, outlet dan bahkan kantor-kantor juga dihiasi dengan nuansa valentine. Entah itu berupa spanduk berisi slogan-slogan, pita-pita, balon dan pernak-pernik serba pink. Bahkan mereka juga mengaitkan promosi produknya dengan Hari Valentine. Semisal dengan menggelar sale bertajuk ‘Memperingati Valentine’s Day, Sale Up to 70%’ atau ‘Ikuti Gebyar Undian Valentine’s Day.’

Tak kalah serunya, tempat hiburan seperti hotel, kafe atau restoran juga menggelar acara khusus bertajuk peringatan hari kasih sayang. Biasanya berupa acara dinner disertai hiburan live music, diiringi games yang diikuti pasangan muda-mudi, lalu dansa-dansi bersama, dan seterusnya.

Media massa pun cukup besar kontribusinya dalam ‘mempromosikan’ perayaan hari kasih sayang tersebut. Bagaimana tidak, pemberitaan pun dikait-kaitkan dengan Hari Valentine. Semisal dalam lead sebuah berita
tertulis ‘Menjelang peringatan Hari Valentine, omzet coklat naik tajam.’ Atau ‘Artis Ayu Kemayu merayakan Valentine’s Day bersama kekasih barunya’ atau ‘Biar romantis, pasangan artis Dona dan Doni menikah di Hari Valentine.’ Dan masih banyak lagi pemberitaan di media massa yang dikait-kaitkan dengan Valentine’s Day.

Sementara iklan-iklan produk yang juga dikaitkan dengan Valentine’s Day takkalah semaraknya, baik di media cetak maupun televisi. Dengan gencarnya pemberitaan dan iklan semacam itu, tentu saja opini tentang adanya Valentine’s Day dan keharusan untuk merayakannya semakin menguat. Otomatis remaja semakin merasa penting untuk terlibat di dalamnya. Jika tidak, dirinya akan merasa kuper, kuno dan tidak
trendy. Sebaliknya, dengan merayakan Valentine’s day mereka akan bangga karena menjadi remaja masa kini yang gaul dan tidak ketinggalan zaman.

Pada akhirnya orang tua akan semakin memberi kelonggaran kepada anak-anaknya untuk merayakan hari tersebut, karena menganggap sebagai hal yang lumrah. Sebagai orang tua yang hidup di zaman modern, mereka tidak mau disebut ortu yang kolot sehingga membebek mengikuti apa saja selera anaknya. Bahkan tidak sedikit orang tua semacam itu yang juga ikut merayakan hari kasih sayang. Mereka yang mengaku sebagai ortu ‘modern’, layaknya pasangan muda-mudi saja, saling memberi hadiah pada pasangannya, bahkan memanfaatkan momen tersebut untuk bulan madu kembali. Well, Velantine’s Day benar-benar sudah menjadi epidemi di tengah-tengah masyarakat, tak terkecuali kaum muslimin dan muslimah.

Akibat Lemahnya Aqidah

Bila kita cermati, kaum muslimin ikut merayakan Valentine’s Day, karena minimnya pemahaman umat Islam tentang hakikat hari tersebut. Muslim-muslimah banyak yang tidak faham latar belakang dan sejarah munculnya Valentie’s Day yang notabene bukan dari Islam. Di sisi lain, pemahamam mereka terhadap ajaran Islam sendiri juga sangat lemah. Aqidah yang tidak menancap kuat dan ketidaktahuan akan hukum-hukum syariat Islam terkait dengan perbuatan, membuat umat Islam begitu bodoh dan mudah tertipu. Sehingga, begitu muncul produk atau aktivitas-aktivitas baru yang sebetulnya bertentangan dengan Islam, mereka tidak memiliki kemampuan menyaring, memilah atau membandingkan, apakah ini halal atau haram, boleh atau tidak. Akhirnya, tanpa mereka sadari mereka mengikuti saja arus yang mengalir di masyarakat.

Bukan itu saja, pengaruh lingkungan pergaulan juga cukup besar. Remaja yang biasa bergaul bebas muda-mudi, biasa pacaran, akan sangat terpesona dengan jargon hari kasih sayang. Sementara remaja baik-baik yang tadinya cuek dengan hari tersebut, bila bergaul dengan para aktivis Valentine’s Day, tentu saja mau tidak mau terpengaruh untuk ikut meramaikannya.

Hal ini juga tidak terlepas dari longgarnya pengawasan ortu. Bahkan ortu malah memberikan dukungan kepada anaknya untuk merayakan hari tersebut. Misal dengan dukungan dana untuk merayakannya, diberi
kelonggaran keluar pada tanggal 14 Februari, atau dibolehkan berdua-duaan dengan pasangannya.

Selain itu pola pendidikan yang tidak sesuai aturan agama menyebabkan anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang kebanyakan melanggar norma-norma adat dan agama itu sendiri. Lengkaplah sudah dorongan bagi mereka untuk terjerumus ke dalam lembah kesalahan. Semua itu dilakukan dengan dalih modernitas, trendy dan gaul. Batasan halal-haram dan norma-norma agama dicampakkan begitu saja. Itulah potret umat di masa kini yang begitu memprihatinkan.

Sejarah Valentine

Perayaan Hari Kasih Sayang ini memiliki perpaduan sebuah tradisi yang bernuansa Kristiani dan Roma kuno. Dan memang ada beberapa versi yang menjelaskan asal muasal perayaan Valentine’s Day. Salah satu versi
menyebutkan, dahulu ada seorang pemimpin agama Katolik bernama Valentine bersama rekannya Santo Marius yang secara diam-diam menentang kebijakan pemerintahan Kaisar Claudius II (268-270 M) kala
itu. Pasalnya, kaisar tersebut menganggap bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya ketika berperang. Karena itu, ia melarang para pemuda untuk menikah demi menciptakan prajurit perang yang potensial. Nah, Valentine tidak setuju dengan peraturan tersebut. Ia secara diam-diam tetap menikahkan setiap pasangan muda-mudi yang berniat untuk mengikat janji dalam sebuah perkawinan. Hal ini dilakukannya secara rahasia. Namun ibarat pepatah sepandai-pandai tupai melompat, ia akan jatuh juga. Demikian pula dengan aksi yang dilakukan Valentine, lambat laun pun tercium oleh Claudius II.

Valentine harus menanggung perbuatannya, dijebloskan ke penjara dan diancam hukuman mati. Dalam legenda ini, Valentine didapati jatuh hati kepada anak gadis seorang sipir, penjaga penjara. Gadis yang dikasihinya senantiasa setia untuk menjenguk Valentine di penjara kala itu. Tragisnya, sebelum ajal tiba bagi Valentine, ia meninggalkan pesan dalam sebuah surat untuknya. Ada tiga buah kata yang tertulis sebagai tanda tangannya di akhir surat dan menjadi populer hingga saat ini- “From Your Valentine.”

Ekspresi dari perwujudan cinta Valentine terhadap gadis yang dicintainya itu masih terus digunakan oleh orang-orang masa kini. Sementara itu, The Encyclopedia Britannica, Vol. 12 halaman 242 menyebutkan, kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat The World Book Encyclopedia, 1998).

Sejak itu mengirimkan kartu bertuliskan “Be My Valentine” menjadi tradisi mengikuti hari kasih sayang. Sekitar 200 tahun sesudah kisah di atas, Paus Gelasius meresmikan tanggal 14 Februari tahun 496 sesudah Masehi sebagai hari untuk memperingati Santo Valentine. Gelar Saint atau Santo diberikan karena kebaikan dan ketulusannya menolong muda-mudi yang jatuh cinta untuk melangsungkan pernikahan. Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai ‘upacara keagamaan’.

Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Lupercalia” yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Ya, versi lain tentang Valentine menjelaskan bahwa hari itu berkaitan dengan tradisi kuno bangsa Romawi. Dimulai pada zaman Roma kuno tanggal 14 Febuari, yang merupakan hari raya untuk memperingati Dewi Juno. Ia merupakan ratu dari segala dewa dan dewi kepercayaan bangsa Roma. Orang Romawi pun mengakui kalau dewi ini merupakan dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan. Dan sehari setelahnya yaitu tanggal 15 Februari merupakan perayaan Lupercalia.

Pada perayaan Lupercalia inilah, remaja-remaja lelaki dan perempuan harus dipisahkan satu sama lain. Namun, pada malam sebelum Lupercalia, nama-nama anak perempuan Romawi yang sudah ditulis di atas kertas dimasukkan ke dalam botol. Nah, setiap anak lelaki akan menarik sebuah kertas. Dan anak perempuan yang namanya tertulis di atas kertas itulah yang akan menjadi pasangannya selama festival Lupercalia berlangsung, keesokan harinya. Kadang-kadang, kebersamaan tersebut bertahan hingga lama. Akhirnya, pasangan tersebut saling jatuh cinta dan menikah di kemudian hari.

Dalam legenda ini ada pula sosok yang disebut Cupid (berarti: the desire), yakni si bayi bersayap dengan panah yang digambarkan sebagai lambing cinta. Cupid ini adalah putra Nimrod The Hunter, dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, pesta Lupercalia kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga
dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Namun dengan berkembangnya zaman, legenda tentang seorang martir bernama St. Valentino terus bergeser jauh dari pengertian sebenarnya.

Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine melalui greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado (bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1.700 tahun yang lalu. Dan sayangnya, umat Islam pun turut serta mengikuti dan membebek saja. Padahal jelas-jelas sejarah perayaan itu sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam, dan bahkan sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena justru bermula dari ajaran agama lain.

Maksiat dan Sia-sia

Terlepas dari sejarah lahirnya Valentine’s Day yang nyata-nyata bukan dari Islam, bila kita tilik perayaan Valentine’s Day, maka seluruhnya melanggar syara’. Tidak ada sedikitpun nilai kebaikan dari perayaan
tersebut. Meskipun dengan alasan mengungkapkan kasih-sayang kepada sesama, tetap bukan alasan pembenaran bagi perayaan Hari Valentine. Tengok saja, Valentine’s Day umumnya dirayakan oleh pasangan
muda-mudi. Seorang pemuda yang menyukai lawan jenisnya, akan mengirimkan kartu ucapan selamat, bunga mawar merah atau memberi hadiah coklat kepada cewek idamannya itu. Jelas ini aktivitas yang
tidak dibenarkan dalam Islam karena dapat membangkitkat syahwat, sementara mereka belum terikat dengan tali pernikahan yang dapat menjadi penyalurannya.

Sementara pasangan muda-mudi yang sudah saling dimabuk asmara, lebih parah lagi. Mereka akan merayakannya berdua-duaan, menyepi, bermesra-mesraan dan tak jarang diakhiri dengan hubungan suami-istri. Na’udzubillahi min zalik. Jelas ini aktivitas yang diharamkan oleh Allah. Mereka sudah melakukan dosa berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram), mendekati zina dan bahkan berzina itu
sendiri.

Padahal Allah Swt melarang keras umat-Nya untuk mendekati zina, apalagi sampai berzina beneran. Ingatlah firman Allah Swt yang artinya: “Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu
perbuatan tercela dan jalan yang buruk
.” (Al-Isra:32). Sebagian remaja lainnya membenarkan Hari Valentine karena toh merayakannya beramai-ramai dan nggak sampai berzina. Misalnya sekadar jalan-jalan bareng ke tempat wisata, makan-makan rame-rame di kafe atau nonton live music di hotel. Inipun tetap melanggar Islam karena Allah melarang kita untuk berikhtilat alias bercampur baur laki-laki perempuan yang tidak ada keperluan syar’i. Ini juga termasuk aktivitas hura-hura yang sangat dibenci Allah Swt.

Bagaimana dengan perayaan Valentine’s Day yang dilakukan sepasang suami istri? Setali tiga uang alias sama saja. Dalam hal ini mereka terkena hukum tasyabuh, yakni mengikuti kebiasaan orang kafir. Ya, sebab Valentine’s Day adalah hari raya milik orang kafir yang tidak boleh diikuti kaum muslimin. Perayaan hari besar adalah menyangkut masalah aqidah dan sama sekali tidak ada toleransi dalam hal ini.

Alquran maupun Sunnah secara syar’i melarang tasyabuh dalam segala bentuk dan sifatnya, baik masalah aqidah, ibadah, budaya, maupun tingkah laku. Allah berfirman dalam Surat An-Nisaa: 115 yang artinya:
”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.

Rasulullah juga bersabda “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alayhi amrunaa fa huwa raddun” yang artinya: “Siapa saja melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunanku, maka perbuatan itu akan tertolak” (HR Bukhari).

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine s Day mengatakan: merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: pertama, ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam. Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) –semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.

Lebih dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati pada mereke. Allah Swt telah berfirman yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

Lalu bagaimana dengan ucapan Be My Valentine? Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It? (www.korrnet.org) mengatakan kata Valentine berasal dari Latin yang berarti “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa.” Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhannya bangsa Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my
Valentine”, hal itu berarti memintanya menjadi Sang Maha Kuasa dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut syirik alias menyekutukan Allah Swt.

Kalau sekadar memberi ucapan selamat merayakan Hari Valentine? Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati haram hukumnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu menunjukkan dukungan dan restunya pada ritual agama lain. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Saw saat keluar menuju perang Khaibar, melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath. Biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah
Saw bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, Buatkan untuk kami Tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan
mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Jelaslah, tidak ada sedikitpun kebolehan bagi umat Islam untuk mengikuti kebiasaan orang kafir. Menyerupai orang kafir sama halnya dengan ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah
nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap rakaat shalatnya
membaca, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“(Al-Fatihah:6-7)

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan
sesat itu dengan sukarela.

Senjata Melenakan Umat
Di abad milenium ini, Valentine’s Day sejatinya sengaja dijajakan ke penjuru dunia sebagai bagian dari skenario liberalisasi (kebebasan). Hari Kasih Sayang sengaja dicekokkan ke benak umat Islam untuk
melenakan mereka dengan aktivitas yang melanggar syara’. Dengan aktivitas ini, sedikit demi sedikit umat Islam diarahkan untuk semakin menjauh dari aqidah Islam.

Allah telah berfirman yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
” (TQS Al-Baqaroh: 120)

Jelas sudah bahwa mereka senantiasa benci kepada kita kecuali kita berpartisipasi pada acara ritual mereka, model pakaian dan pola pikir yang mereka miliki. Perayaan valentine adalah salah satu sarana mereka untuk memurtadkan kita secara perlahan tapi pasti, tanpa kita sadari. Karena itu, wahai kaum muslimin dan muslimah, jangan tertipu slogan kasih sayang yang menjerumuskan.[]

Asri Supatmiati, Jurnalis.

Rabu, 10 Februari 2010

Imlek Adalah Hari Raya Agama Kafir Bukan Sekedar Tradisi : Haram Atas Muslim Turut Merayakannya

Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan begini. Bahwa Imlek itu hanyalah tradisi dan bukan bagian ajaran agama tertentu. Karenanya umat Islam khususnya yang beretnis Tionghoa boleh-boleh saja merayakan Imlek. Benarkah Imlek hanya tradisi? Apakah boleh muslim turut merayakan Imlek? Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam, dengan menelaah ajaran agama Khonhuchu, serta menelaah hukum syariah Islam yang terkait dengan keterlibatan kaum muslimin dalam perayaan hari raya agama lain.

Imlek Bagian Ajaran Agama Khonghucu, Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa

Memang tak jarang kita dengar dari orang Tionghoa, termasuk tokoh-tokohnya yang sudah masuk Islam, bahwa Imlek itu sekedar tradisi. Tidak ada hubungannya dengan ajaran suatu agama, sehingga umat Islam boleh turut merayakannya. Sebagai contoh, Sekretaris Umum DPP PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), H. Budi Setyagraha (Huan Ren Cong), pernah menyatakan bahwa Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru penanggalan Cina, datangnya musim semi, dan musim tanam di daratan Cina. H. Budi Setyagraha berkata,”Imlek bukan perayaan agama.” (Lihat “Sekjen DPP PITI : Rayakan Imlek Jangan Berlebihan”, Kedaulatan Rakyat, Selasa, 13 Pebruari 2007, hal. 2).

Jika kita mendalami agama Khonghucu, khususnya mengenai hari-hari rayanya, akan terbukti bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sebab sebenarnya Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Khonghucu, bukan semata-mata tradisi.

Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat kurang memahami Hari Raya Konfusiani. Kata beliau mencontohkan,”Misalnya Tahun Baru Imlek dianggap sebagai tradisi orang Tionghoa.” Dengan demikian, pandangan bahwa Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, menurut penulis buku tersebut, adalah suatu kesalahpahaman (Ibid., hal. v).

Dalam buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua MATAKIN tahun 2000 Hs. Tjhie Tjay Ing itu, pada hal. 58-62, Hendrik Agus Winarso telah membuktikan dengan meyakinkan bahwa Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagian Gwat Ling, yang berbunyi :

“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia… (Tiong Yong XV : 1-5).

(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Beliau mengatakan :

“Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).

Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekedar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekedar tradisi.

Lagi pula, harus kami tambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakan-akan kalau berasal dari tradisi hukumnya boleh-boleh saja dilakukan, sementara kalau dari agama lain hukumnya tidak boleh.

Standar semacam itu sungguh batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al-A’raaf [7] : 3)

Kalimat “maa unzila ilaykum min rabbikum” dalam ayat di atas yang berarti “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”, artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut : Dar Shaadir], Juz III/2).

Jadi suatu perbuatan itu boleh atau tidak boleh dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan.

Maka kalau kita hendak menilai perbuatan muslim turut merayakan Imlek menurut Islam, tolok ukurnya harus benar. Yaitu harus kita lihat adalah apakah perbuatan itu boleh atau tidak menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan melihat apakah Imlek itu dari tradisi atau dari agama.

Sungguh kalau seorang muslim menggunakan tolok ukur tadi, yaitu melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi tidak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam. Contoh, free sex pada masyarakat Barat yang Kristen. Free sex jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina. Lalu, apakah karena free sex itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap tidak boleh, bukan?

Walhasil, mari kita gunakan barometer yang benar untuk menilai suatu perbuatan. Barometernya, bukan dilihat dari segi asalnya apakah suatu perbuatan itu dari tradisi atau agama, melainkan dilihat dari segi boleh tidaknya perbuatan itu menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah pandangan yang haq, tidak ada yang lain.

Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.

Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,”Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka...” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-'Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT :

“Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS Al-Furqan [25] : 72).

Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur. Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah ” tidak menghadiri kebohongan”, bukannya ” memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.

Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat :

“Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah [2] : 145).

Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi SAW, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka]. Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).

Adapun dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

Berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai asesoris lainnya yang serba berwarna merah. Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan Imlek, seperti live band, karaoke mandarin, demo masak, dan sebagainya.

Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Himbauan Kepada Muslim Etnis Tionghoa

Terakhir, kami sampaikan seruan dan himbauan kepada saudara-saudaraku muallaf dari etnis Tionghoa, hendaklah Anda masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhannya (kaffah). Janganlah Anda -semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda semua- mengikuti langkah-langkah setan, yakni masuk ke dalam agama Islam namun masih mempertahankan sebagian ajaran lama yang dulu Anda peluk dan Anda amalkan, seperti perayaan Imlek. Marilah kita renungkan firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2] : 208)

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Minggu, 31 Januari 2010

VALENTINE DAY (HARI BERKASIH SAYANG)

Menurut pandangan Islam


Benarkah ia hanya kasih sayang belaka ?

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)

Hari 'kasih sayang' yang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir disebut 'Valentine Day' amat popular dan merebak di pelusuk Indonesia bahkan di Malaysia juga. Lebih-lebih lagi apabila menjelangnya bulan Februari di mana banyak kita temui jargon-jargon (simbol-simbol atau iklan-iklan) tidak Islami hanya wujud demi untuk mengekspos (mempromosi) Valentine. Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik(disko/kelab malam), hotel-hotel, organisasi-organisasi mahupun kelompok-kelompok kecil; ramai yang berlumba-lumba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan dukungan(pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio mahupun televisyen; sebagian besar orang Islam juga turut dicekoki(dihidangkan) dengan iklan-iklan Valentine Day.


SEJARAH VALENTINE:

Sungguh merupakan hal yang ironis(menyedihkan/tidak sepatutnya terjadi) apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri 'terjun' dalam perayaan Valentine tersebut tanpa mengetahui sejarah Valentine itu sendiri. Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang kerana kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.

Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.

Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari erti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat (melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment(hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan(bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang.


PANDANGAN ISLAM

Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?

Mari kita renungkan firman Allah s.w.t.:

Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (Surah Al-Isra : 36)

Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.

Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.

Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-

Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.

1. PRINSIP / DASAR

Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.

2. SUMBER ASASI

Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

3. TUJUAN

Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.

4. OPERASIONAL

Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.

Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)

Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.

Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.

Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.

MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)
Perhatikanlah Firman Allah :

…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.

Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.

Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.

Firman Allah s.w.t.:
Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.

"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..

Senin, 21 Desember 2009

NIKAH TAK BUTUH CINTA


Banyak orang bilang bentangan waktu selama mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) adalah kurun waktu untuk menggadaikan idealism untuk mereka yang meyandang predikat sebagai seorang islam ideologis. Hipotesa ini muncul dari pengalam pribadi para pelaku KKN. Katanya banyak sekali momen-momen yang akan kita temui yang mana momen itu sangat bertentangan dengan idealisme kita. Dan disinilah idealism itu akan diuji, apakah kita layak untuk dikatakan sebagai sang penggenggam ideology ataukah justru kita secara terpaksa merenggangkan genggaman kita dan melepaskan idealisme yang telah kita genggam erat.
Jawabannya tergantung sekuat apa sang penggenggam ideology itu menggenggamnya. Dan sejauh mana dahsyatnya rayuan sehingga mampu membuatnya untuk berkompromi. Jawabannya sangat subjektif sekali.
Namun terlepas dari semua itu ajang KKN membawa sejuta kenangan dan inspirasi yang dapat dijadikan sebagai pengalaman sakaligus sebagai batu tumpuan untuk melanjutkan sisa-sisa kehidupan yang tak tahu tinggal berapa lama lagi.
Banyak sebenarnya fenomena-fenomena menakjubkan yang mampu untuk menjadi pelajaran bagi mereka yang mau sejenak untuk berpikir. Namun bagi mereka yang melaluinya tanpa terbesit sedikit pun keinginan untuk mencerap kemudian memikirkannya maka masa KKN hanya akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang mampu untuk menjadi inspirasi.
Dari sekian banyak hamburan fenomena hidup selama KKN ada satu fenomena yang menarik untuk dicermati dan diceritakan lewat seuntai wacana ini. Ya…KKN melibatkan anak-anak muda yang berjiwa panas dan memiliki naluri yang semenara bergejolak. Aura perasaan tertarik terhadap lawan jenis lagi menuju klimaksnya. Perasaan ini sering mereka perhalus dengan kata "cinta". Walaupun saya pribadi sangat tidak setuju jika pengumbaran naluri ketertarikan terhadap lawan jenis yang liar itu disbut cinta. Karena cinta adalah anugrah suci yang diturunkan oleh sang pemilik cinta dan agar kesuciannya tetap terjaga maka penyalurannya harus merujuk pada apa yang dititahkan oleh sang pemilik cinta sejati.

Banyak orang bilang tanpa cinta tak mungkin dua insan anak manusia mampu bersatu. Apalagi jika memiliki niat bersatu dan melebur dalam mahligai rumah tangga. Konon cinta menjadi salah satu syarat yang wajib ada sebulum ikrar suci diungkapkan di depan sang penghulu. Dari alasan inilah banyak generasi adam dan keturunan hawa yang menjadikannya sebagai sebuah alasan untuk memupuk dahulu cinta sebelum melanggeng menuju singgasana raja dan ratu sehari.
Nah masa untuk memupuk cinta ini agar bisa tumbuh subur ini disebut sebagai masa penjajagan atau lebih lazim disebut masa pacaran. Entah bagaimana sejarahnya sampai masa ini disebut sebagai masa pacaran. Jadi para penggiat cinta dengan kelemahan akalnya telah mencoba membuat sebuah manuskrip yang berisi alur perjalanan cinta. Yang mana jika ada seseorang yang berusaha untuk tidak melewati tahapan yang telah dibuat dalam manuskrip itu maka kebahagiaan akan jauh darinya.
Sebelum berlanjut untuk mengarungi bahtera rumah tangga, sepasang insan terlebih dahulu wajib melalui masa pacaran. Masa ini adalah tempat melakukan perkenalan dan penjajagan satu sama lain. Setelah merasa cocok barulah boleh melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Begitu kata mereka…(sebenarnya mereka lebih cocok dikatakan sebagai penoda kesucian cinta).
Namun semua logika ini terbantahkan ketika terjadi fenomena merebaknya perasaan cinta saat KKN berlangsung. Sebutlah di sebuah posko antah berantah (kurang etis kalau menyebutkan nama poskojnya), yang ternyata telah mampu mencetak tiga pasangan sekaligus. Entah sampai cerita ini dibuat apakah mereka masih langgeng atau sudah memutuskan mencari jalan masing-masing karena menyadari mereka sementara terlibat dalam suatu lakon sandiwara yang berjudul "kamuflase cinta". Padahal mereka adalah sepasang anak manusia yang tak pernah berkenalan sebelumnnya. Baru berkenalan ketika kebetulan pengelola KKN menempatkannya pada satu posko.
Cinta memang menyimpan sejuta misteri. Ia akan muncul secara tiba-tiba kemudian membesar dalam waktu singkat dan kedatangannya tak perlu diundang. Makanya bukan hal yang ajaib jika ada orang yang berani mengarungi bahtera rumah tangga padahal sebelumnya belum pernah saling kenal, namun ternyata rumah tangganya pun dapat berlangsung langgeng semakin erat seiring berjalannya waktu. Namun diseberang sana ada pasangan yang telah lama memadu kasih dalam jejaring pacaran dan ternyata kesucian rumah tangga itu hanya mampu dijaga seumur jagung belaka.
Jadi sebenarnya nikah tak butuh cinta. Cinta bisa tumbuh saat akad nikah itu telah terucap. Cinta dapat tumbuh disaat sepasang insan sering bertemu, sering bersama, sering berbagi, seperti apa yang sering dilakukan oleh mahasiswa KKN sehingga sangat memungkinkan cinta itu tumbuh diantara mereka. Terlebih lagi cinta itu adalah hidayah Allah. Selama niat menikah itu didasari untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri serta dalam rangka menjalankan syariat Allah demi meraih ridha-Nya, maka dengan niat luhur seperti itu yakinlah Allah akan menolong siapa saja yang memiliki niat luhur seperti itu. Dan salah satu bentuk pertolongan Allah yang paling mungkin adalah menumbuhkan rasa sayang di antara sepasang insan tadi. Dan Allah lah yang akan menjagga rajutan cinta yang telah mereka sulam berdua. Hal ini adalah perkara yang sangat mudah bagi Allah. Menumbuhkan cinta tidak lebih sulit daripada mengakhirkan kehidupan dunia. menjaga ketentraman rumah tangga tidak lebih sulit daripada menerbitkan matahari dari barat.
Untuk itu jangan terlalu percaya dan latah mengikuti manuskrip jejang cinta yang telah disusun oleh manusia yang sebenarnya adalah sosok yang paling tidak mengerti apa itu cinta. Jalani dan rajutlah cinta sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh sang pemilik cinta, karena hanya dengan itulah cinta akan menemukan bentuk sejatinya. Dan dengan pertolongannya rumah tanggamu akan menjadi titian yang membimbingmu menuju mahligai surga, insya Allah…

awe
E-mail: ideologislam@yahoo.co.id

Selasa, 08 Desember 2009

MTV Staying Alive 2009: Agenda Kapitalis Perusak Anak Muda Tawarakan Solusi Busuk Kondom


Syabab.Com - Perusakkan generasi negeri ini terus digelorakan oleh para agen kapitalisme sekularisme berbungkus hiburan kepada anak-anak muda kita. Dengan menyebut memperingati AIDS Sedunia dan ingin dikatakan bahwa mereka peduli korban AIDS, mereka tiada hentinya secara langsung atau pun tidak langsung mengkampanyekan ajakan seks bebas di kalangan anak muda dengan mempromosikan kondom.

Sebut saja, sebuah acara maksiyat berselimut konser pro sosial "MTV Staying Alive 2009", yang digelar oleh Global TV beserta perusahan kondom. Melalui media televisi ini mereka merusak generasi muda negeri ini dengan kemaksiyatan berbaju seni dan konser sosial.

MTV Staying Alive merupakan salah satu program yang sarat dengan agenda para kapitalis. Sejak diluncurkan tahun 1998, kampanye MTV Staying Alive adalah kampanye pencegahan penularan HIV dan AIDS terbesar yang difokuskan untuk pemuda. Tentu saja solusi yang ditawarkan rusak dan keliru, bukan solusi cerdas dan Islami. Hanya untuk kepentingan para kapitalis, yang dibalut nama "konser sosial", mereka terus kampanyekan solusi busuk kondom. Bahkan beberapa agen kapitalis yang dibayar untuk tampil dalam acara tersebut dengan terang-terangan mempromosikan penggunaan kondom kepada remaja.

Sebut saja seperti yang dilansir oleh detik, seorang selebritis mengingatkan para remaja agar pakai kondom. "Kita harus setia dengan pasangan kita, jangan jajan sembarangan dan jangan lupa pakai karet pengaman," ucapnya, Ahad (06/12/09). Walaupun dia menyarakan anak muda menjauhi perilaku seks bebas. Tetapi, sesungguhnya dia sendiri tengah berada dalam jurang yang dalam, terlibat dalam mengkampanyekan seks bebas itu, melalui ajakannya agar remaja menggunakan kondom.

Bukankah tindakan mereka dengan mempromosikan penggunaan kondom kepada remaja adalah bentuk dari ajakan seks bebas? Tentu saja. Siapa sebenarnya yang menjadi sasaran dari acara tersebut? Pastinya bukan orang yang sudah berkeluarga, melainkan ditujukan untuk anak muda. Hal itu diakui oleh pihak televisi.

"Ini sebagai bentuk tanggungjawab moral MTV dan Global TV terhadap penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia," ungkap Direktur Utama Global TV Daniel Hartono dalam konferensi pers di Hard Rock, EX Plasa, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (26/11).

Apakah para remaja di negeri ini, mereka berpasang-pasangan sudah dalam ikatan pernikahan? Apakah di negeri ini, remaja SMA sudah diperbolehhkan menikah? Nyatanya di negeri bermayoritas Muslim ini melalui sistem yang rusak telah dibuat separangkat sistem untuk memperlambat nikah usia dini. Mereka, para remaja, tidak diperkenankan untuk menikah, sementara sajian-sajian yang menggiring kepada perilaku seks bebas terus digembar-gemborkan.

MTV Staying Alive 2009 dimeriahkan dengan penampilan selebritis diantaranya, Andra & The Backbone, Afgan, ST12, d'Masiv, RAN, GIGI, Aura Kasih, Vidi Aldiano, Mulan Jameela, Mahadewi, Drive, Saykoji, Hello, J Rocks, Pas Band, Samsons, Marvells, Lyla, Domino, Steven n Coconutreez, Kotak dan masih banyak lagi.

Sekali lagi, inilah bukti nyata kerusakkan tatanan sistem sosial di negeri ini yang telah menyebabkan kehancuran generasi muda masa depan. Sebuah sistem yang berakar dari akidah sekularisme, pemisaan agama dari kehidupan. Para kapitalis dan agen-agennya sudah lupa keberadaan mereka sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah Rabb Al-Mudabbir. Mereka pun tak mau aturan Sang Pencipta itu mengatur kehidupannya, padahal Dia telah memberikan jalan hidup bagi manusia. Mereka seola tidak akan mati sehingga enggan untuk mengingat masa depan yang kekal nanti.

Padahal, semua manusia pasti mati, termasuk para selebritis yang telah dibayar oleh para kapitalis, juga pemilik media, dan siapa pun. Setelah mati, Allah niscaya akan meminta pertanggungjawaban atas apa telah manusia lakukan di dunia ini, apakah sesuai dengan perintah-Nya atau malah mengingkari-Nya. Jika sesuai dengan aturan-Nya, maka kehidupan jannah dengan kenikmatan yang luar biasa akan menjadi tempat manusia kembali. Sebaliknya, jika berpaling, maka niscara neraka yang menyala-nyala akan menjadi tempat mereka kembali, naudzubillahi mindzalik....

Wahai anak muda, generasi cerdas waspadalah teradap agenda terselebung para selebritis, para sponsor kapitalis, dan pengelola media televisi kapitalis yang akan menggiring kalian ke jurang kehinaan. Jauhilah konser-konser maksiyat tersebut dan hinakanlah aktivitas-aktivtasnya. Jangan jadikan para selebritis itu sebagai idola kalian, karena tidak layak untuk jadi idolah. Enyahkanlah dalam benak kalian. Tidakkah kalian ingat sabda Rasulullah Saw., "Engkau akan bersama dengan apa yang engkau cintai." Jadi, jika kalian menjadikan idola para selebritis yang rusak itu, niscaya nanti di akhir kalian akan bersama dengannya. Persoalannya di surgaka atau di neraka?

Sementara untuk para selebritis, para sponsor, dan pemilik media, sadarlah bahwa kalian pasti akan mati. Sadarlah, aktivitas Anda sia-sia belaka di hari akhirat nanti. Malah justru sebaliknya, jika Anda menjauhi perintah Sang Pencipta dan mengikuti keinginan para kapitalis untuk merusak generasi, Anda akan dimintai pertanggungjawabannya. Bertobatlah, sebelum masa yang menyakitkan itu tiba.

Tak lupa juga, kerusakkan sistem sosial saat ini, banyak sedikitnya juga akibat kelalaian para penguasa yang tidak menerapkan aturan Islam dan tidak peduli terhadap masa depan umat. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa mereka peduli, ketika program-program dan kegiatan yang maksiyat itu malah dibiarkan.

Sudah saatnya, generasi muda hari ini mencampakkan tatanan sosial yang rusak itu dan beralih kepada sistem paripurna dan memuliakan. Itulah sistem Islam yang akan tegak secara sempurna di bawa naungan Khilafah Rasyidah yang insya Allah tidak akan lama lagi, segera berdiri. Khilafah akan menjadikan potensi anak muda untuk kemajuan umat dalam membangun peradaban, tidak seperti dalam sistem kapitalisme saat ini yang menjadikan anak muda sebagai objek sajian para kapitalis. [if/m/am/syabab.com]

Minggu, 15 November 2009

PEMUDA BERJIWA QUR'ANI


"Sesungguhnya al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar."
(TQS. al-Isra [17]: 9).

Saudaraku para Pemuda, kita adalah pelanjut kehidupan Islam dan di pundak kita terdapat tanggung jawab untuk memuliakan kalimat Laa Ilaha Illallah di muka bumi. Hal yang tidak dapat dipungkiri di dalam darah pemuda mengalir semangat juang yang tinggi, hal ini terbukti dengan perjalanan sejarah di dunia ini yang selalu melibatkan para Pemuda bahkan tidak jarang menjadi pelopor terdepan didalam perubahan bahkan revolusi sebuah kaum, demikian juga halnya awal perjuangan menegakkan Islam di masa Rasulullah, banyak dari kalangan Sahabat awal yang terpercaya adalah para Pemuda bahkan diantaranya ada yang berumur 8 – 15 tahun.

Saudaraku para Pemuda, begitu banyak jaring-jaring yang dapat menarik kita ke lubang kehinaan di dunia ini. Bukan hanya industri-industri barang dan hiburan yang ingin meraup para Pemuda juga organisasi-organisasi yang tidak jelas arah dan bentuknya. Namun apakah kita akan menghabiskan energi hanya untuk meraup kesenangan dunia yang semu? Ataukah kita ingin mengorbankan waktu muda hanya untuk meraih kepuasan yang sia-sia? Ataukah kita lebih memilih untuk menyesal diakhir umur? Sementara Allah telah menunjukkan kekuasaannya dengan menggugurkan daun muda diatas batang yang kokoh. Seorang Pemuda muslim tentunya akan mengisi waktu dengan hidup yang lebih bermakna, dan hal ini hanya dapat dicapai jika karakter dan jiwanya telah melebur dengan al-Qur'an.

Jiwa hanya akan sejalan dengan al Qur'an jika telah meraih dan tertanam beberapa hal yang juga telah dimiliki oleh para pemuda dimasa awal Islam:
• Beriman tanpa keraguan sedikitpun terhadap kebenaran Allah dan kalam-Nya
Pemuda-pemuda Ashabul kahfi contoh teladan akan hal ini dimana keyakinannya kepada Allah telah melahirkan pengorbanan yang mulia, dan Allah telah mengabadikan kisah ini di dalam lembaran suci-Nya:
"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan
Kami tambahkan kepada mereka petunjuk". (TQS. al Kahfi [18]: 13)

Keimanan pun harus dibangun tanpa keraguan sedikitpun, Firman Allah Swt:
"(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu". (TQS. Ali Imran [3]: 60)

• Beramal shaleh dan tunduk secara totalitas kepada Seruan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Swt berfirman dalam lembaran suciNya:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk". (TQS. al Bayyinah [98]: 7)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim (Muhammad) dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya". (TQS. an-Nisa [4]: 65)

• Selalu Haus dengan Ilmu
Allah Swt berfirman dalam al Qur'an al Karim:
"Katakanlah: 'adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
(TQS. az Zumar[39]: 9)

Rasulullah bersabda:
"Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yg mempelajari al Qur'an & mengajarkannya"
(THR. al Bukhari dari Utsman bin Affan ra)

• Selalu memuliakan al Qur'an disetiap saat
Rasulullah al Ma'shum berpesan:
"Apabila seseorang ingin berdialog dengan Rabbnya maka hendaklah dia membaca al Qur'an". (THR. Adailami dan Baihaqi)

"Orang yang didalam benaknya tidak ada sedikitpun dari al Qur'an ibarat rumah yang bobrok". (Mashabihussunnah)

• Berdakwah dan berjihad
"Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yg mempelajari al Qur'an & mengajarkannya".
(THR. al Bukhari dari Utsman bin Affan ra)

Bahkan seorang muslim akan siap mengorbankan harta dan dirinya agar Islam dapat tegak dimuka bumi, Rasulullah saw berpesan:
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah (Laa Ilaaha Illallah)". (THR. al Bukhari dan Muslim)

Pintu menuju hidayah Allah terbentang luas dihadapan manusia namun tidak jarang beberapa manusia masih belum menemukan pintu tersebut, sebagaimana untuk meraih sifat-sifat diatas maka langkah-langkah awal yang harus dilakukan:

• Mencari majelis ilmu yang terpercaya, tempat mengkaji Islam secara rutin dan serius untuk membentuk pola pikir dan pola jiwa Islam. Jangan terlalu berharap dengan mata pelajaran/ kuliah di sekolah/ kampus untuk memperdalam ilmu Islam karena sungguh sistem pendidikan saat ini bukan mencetak manusia menjadi yang takut kepada Allah SWT, lihatlah kebayakan siswa/ mahasiswa sekarang yang dapat menghafal ayat-ayat Suci untuk persiapan menjelang ujian namun dalam realitanya banyak perilaku mereka yang malah menyimpang dari al-Qur’an.
Tetapi carilah majelis ilmu dimana saja, misalnya di dalam gerakan (harakoh) dakwah yang menjadikan penanaman ilmu Islam sebagai modal vital dalam berdakwah di tengah masyarakat, Rasulullah saw bersabda:
"Tiada sekolompok kaum yang berkumpul disalah satu Baitullah (Masjid) untuk membaca Kitabullah dan mengkajinya secara bergilir diantara mereka, melainkan mereka akan diberi ketenangan batin, dinaungi rahmat, dikerumuni Malaikat dan disebut oleh Allah sebagai orang yang berada disisi-Nya" (THR. Muslim dari Abu Hurairah ra).

Walau petunjuk (al Huda) dapat diperoleh dengan berusaha belajar sendiri namun tanpa ilmu malah hal ini dapat menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa mengulas al Qur'an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka".
(THR. Abu Dawud)

• Secara pribadi harus selalu menumbuhkan motivasi untuk menuntut ilmu (belajar untuk diterapkan) dan fastabiqul khaerat, Allah Swt berfirman:
"Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (TQS. al Baqarah [2]: 148)

• Bergaul dengan orang-orang yang bertakwa, Allah Swt berfirman:
"Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (teman akrab, pemimpin, pelindung, atau penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah". (TQS. Ali Imran[3]: 28).

Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping". (THR. Ahmad)

• Adanya saling muhasabah & amar ma'ruf nahi mungkar dlm pergaulan,
Berpesan Rasulullah saw:
"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya". (THR. al Bukhari)

• Berdakwah & berupaya berada dlm komunitas pengemban dakwah, Allah Swt berfirman:
"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (TQS. Ali Imran [3]: 104)

• Istiqomah di jalan Allah Swt, firman Allah Swt:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah'. Kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati". (TQS. al Ahqaaf [46]:13)

Saudaraku para Pemuda muslim, bangkitlah menuju kemuliaan Islam, raihlah hidup yang lebih bermakna dan jadilah orang yang terdepan dalam menggapai RidwanuLlah.

Saudaramu, Kanda Dil

Arsip Blog

chating pengunjung


ShoutMix chat widget

kegiatan

 

"BERFIKIR IDEOLOGIS, BERTINDAK SIYASIH, ISTIQAMAH DALAM DAKWAH" | Copyright © Hanya Milik Allah SWT | template By: NdyTeeN.. Powered by Blogger.